Loading

Aku akan hapus jejak masa lalu bersama angin berhembus ke utara. Begitu kira-kira bersitan di benak ketika meninggalkan masa lalu. Jejak kerap dianggap sudah lenyap, tidak eksis ketika telah terlewati waktu. Ia tidak akan pernah hadir di masa kini karena sudah ter(/di)kubur bersama kenangan lampau. Eksistensinya menjadi tergantung apakah ia akan dihidupkan kembali dan direkostruksi atau tidak. Nasib jejak tampaknya akan selalu terpinggirkan. Pertanyaan menggelisahkan sejurus menohok akal. Bukankah jejak-jejak lalu selalu ada dalam materi, pikiran, benak, hati, intuisi atau bahkan alam ketidaksadaran? Bukankah ia masih bersemanyam dalam ingatan personal maupun kolektif manusia? Jejak adalah eksistensi itu sendiri. Ia sama eksisnya dengan wujud yang meninggalkannya. Tak pernah dapat dihilangkan meski manusia berusaha mengkhianatinya. Berapa banyak ilmu yang dibangun dan dikembangkan berdasarkan jejak. Ilmu sosial humaniora, ilmu agama, ilmu alam bahkan ilmu hitam sekalipun menghadirkan jejak yang kemudian dikonstruksi dan dilanjutkan dengan menapaki jejak-jejak lama. Semua berjejak, bahkan kata sekalipun adalah jejak yang terus menerus meninggalkan jejak baru. Derrida menjejakkan sebuah pernyataan bahwa makna kata tak pernah fixed. Sebuah makna adalah jejak yang akan terus melahirkan jejak baru tak berkesudahan. Tidak ada ketunggalan makna dari sebuah kata. Makna lahir dari sebuah konvensi sosial dan konstelasi relasi kuasa dalam historisitas tertentu. Ia adalah jejak yang akan melahirkan jejak dan makna yang lain seiring perubahan dan pergeseran historisnya. Perayaan keragamaan jejak merupakan dekonstruksi Derrida atas logosentrisme yang menganggap ketunggalan kebenaran, pengetahuan, makna, jejak … Mungkin Derrida melewatkan satu hal bahwa tidak hanya makna yang merupakan jejak kata, namun kata sendiri juga merupakan jejak dari pertarungan historis kala itu. Satu kata akan melahirkan kata-kata lain secara tak terhingga. Hingga Foucault menyebut kata pun juga sebuah diskursus yang dikonstruksi oleh kekuasaan tertentu untuk kepentingan politis/ideologis tertentu. Produksi kata adalah produksi pengetahuan dan sekaligus kekuasaan. Jejak adalah juga produksi relasi kuasa dalam ruang partikular. Tampaknya pembicaraan tentang jejak tak kan pernah berkesudahan. Jika memakai perspektif para mistikus, semua yang ada alam semesta adalah jejak-jejakNya yang akan melahirkan jejak-jejak lain tak terhingga untuk direnungkan, diresapi dalam kesadaran bahkan ketidaksadaran manusia. Menapaki jejakNya tidak hanya membawa pada dunia firdaus bagi pencarinya, tapi juga mengantarkan pada penyaksian terhadap Sang pemilik jejak, Sang Maha Jejak.

Hayyan, 8 Mei 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish