Temaram lampu templok terlihat indah menyinari gubuk tua nan reot. Dentingan angin malam berkolaborasi dengan nada-nada hewan malam, merangkai melodi syahdu yang melankolis. Tampak dari kejauhan sesosok renta berjalan tertatih-tatih dengan tongkat andalannya menuju pembaringan yang juga reot. Berbaring sosok yang tak kalah renta diam dengan tatapan kosong. Sambil membawa sepiring nasi yang dicari susah payah dari pagi hingga sore hari, satu suap kecil dengan perlahan dimasukkan ke bibir keriput pucat. Satu sendok tak tertelan semua hingga harus mengulang dua atau tiga kali. Pak tua menatap istrinya dengan tatapan lembut penuh cinta. Dalam batinnya bergejolak imaginasi romansa masa lalu betapa kasihnya sang istri mencurahkan hatinya hanya untuknya seorang. Melihatnya terbaring tak berdaya mengingatkan kondisi lalunya yang sering tak berdaya hadapi getirnya hidup. Hingga dalam titk nadir pun, sang istri tak lewatkan sedetik pun hatinya tuk merangkul semua kesedihan yang dirasa. Tak tampak sama sekali rona marah penuh tuntutan, raut muram penuh gelisah bahkan wajah sedih sarat cemas. Semuanya dirangkul dalam batinnya demi menopang jiwa ragaku. Kembali tatapan pak tua terarah untuk istri tercinta. Sambil membelai rambutnya yang kian memutih dengan wajah yang tak lagi mulus, satu suapan masih bisa masuk berharap satu tarikan nafas masih bisa dinegosiasi. Berharap sang pencabut nyawa mengulur satu detik ajalnya. “Seandainya aku bisa, kan kutukar deritamu dengan bahagiaku bahkan nyawaku sekalipun”. Bersitan romantis nan altruis mendadak mengisi heningnya malam ditemani alunan musik alam, hingga membuai keduanya dalam lelap surgawi. Pengorbanan sang istri tuk suami dan pengorbanan diri sang suami tuk istri tercinta melewati hidup yang kian menua hingga berakhir. Apakah ini hanya sebuah narasi hayalan sang pujangga demi mengaet rasa pembaca? Ataukah cerita pengarang agar dramanya menguras perasaan penonton? Pengorbanan niscaya dalam cinta bahkan dalam wacana filosofis sekalipun. Cinta adalah sumber terdalam kehidupan manusia bahkan kehidupan emosional dan spiritualnya. Tak ada kehidupan tanpa cinta. Cinta sekaligus menjadi kekuatan untuk melakukan tindakan altruistik, begitu sapa Kierkegard. Tapi apakah pengorbanan diri dalam cinta laksana lilin menyala yang di satu sisi memberi cahaya terang tuk sekelilingnya seraya menghancurkan dirinya sendiri? Betapa tragisnya cinta kalau seperti itu. Bukankah itu bentuk pelenyapan diri layaknya bunuh diri? Lalu di mana ekistensi pencinta? Bukan seperti itu, pengorbanan bukanlah hanya untuk kepentingan yang dicinta tapi sekaligus menjadi kepentingan sang pencinta. Tak ada penegasian eksistensi dan kepentingan diri dalam cinta. Bagi Kirkegard, yang ada adalah transformasi kepentingan yang tercinta menjadi kepentingan dan hasrat sang pecinta. Bahkan Foucault melangkah lebih jauh menapaki jalan kebenaran cinta. Berkorban untuk menekan hasrat dan keinginan diri atas kekasih agar menjadi yang diinginkannya. Berkorban agar sang kekasih menjadi dirinya sendiri. Itulah kebenaran yang Foucault nyatakan sebagai pencapaian cinta. Pengorbanan dalam cinta menandai keberhasilan sang pecinta mengalahkan dan menguasai hasrat dan kenikmatan diri. Dalam kesunyian, angin semilir lambaikan pesan romantis pak tua tuk rasuki mimpi sang istri tercinta. Bisikan aroma altruistik resapi dunia mimpi, iringi binar mata istrinya yang perlahan-lahan terkatup selamanya. “Tangismu dukaku, binarmu senyumku, letihmu pedihku, lukamu perihku, sinarmu mentariku, hasratmu hasratku, adamu adaku”. Selamat tidur sayang.
Hayyan, 22 Mei 2020